Dokter Amerika Mendesak Media Hindari Berita Hoax Tentang Kesehatan

Dokter Amerika Mendesak Media Hindari Berita Hoax Tentang Kesehatan

Seorang dokter asal Amerika, Vivek Murthy, memastikan bahwa berita kesehatan hoax di media memperburuk dan memperpanjang pandemi Covid-19. Karenanya, mantan wakil laksamana didalam Public Health Service Commissioned Corps berikut mendesak platform sarana sosial termasuk Twitter dan Facebook untuk benar-benar menangani masalah ini.

Murthy termasuk menghendaki agar platform sarana sosial mengakibatkan seperangkat pedoman yang terlalu mampu membangun lingkungan informasi kesehatan yang kredibel bagi pengguna sarana sosial. “Hari ini, kita hidup di mana informasi yang tidak benar mengundang ancaman yang beresiko bagi kesehatan bangsa. Perusahaan teknologi modern sudah membebaskan informasi yang tidak benar dan disinformasi menyebar ke seluruh platform mereka,” kata Murthy (18/7).

Dia termasuk mendesak keseriusan aplikasi didalam memotong rantai hoaks kesehatan dan informasi tidak benar tentang kesehatan lebih-lebih Covid-19. Misalnya dengan menaikkan pengawasan secara ketat, atau sanksi yang lebih lebih agresif kepada barang siapa penyebar dan pembuat informasi menyesatkan tentang Covid-19. Desakan ini nampak bersamaan menurunnya tingkat vaksinasi Covid-19 di AS yang merupakan penyalur Situs Judi Slot Online Gampang Menang terbesar.

Selagi persoalan positif Covid-19 ulang meningkat setelah terdapatnya varian delta. Jangkauan vaksinasi yang rendah termasuk ditengarai karena misinformasi, di mana masyarakat tidak percaya dengan keamanan dan efektivitas vaksin melawan virus corona. Misinformasi tentang Covid-19 sebetulnya kian meningkat karena sarana sosial seolah mengimbuhkan ‘panggung’ bagi para penganut konspirasi.

Seluruh Aplikasi Di Desak Agar Berita Hoax Mengenai Kesehatan Bisa Terputus Sebelum Menyebar Luas

Dokter Amerika Mendesak Media Hindari Berita Hoax Tentang Kesehatan

Mis atau disinformasi dinilai sudah memengaruhi hasil penentuan presiden 2016, meningkatnya polarisasi politik, berperan didalam pembersihan etnis Muslim Rohingya di Myanmar, dan sekarang, berpotensi memperpanjang pandemi. Pakar biologi evolusi dan profesor di Washington University, Carl T Bergstrom, mendorong agar ada penelitian lebih lanjut tentang efek sarana sosial pada masyarakat. Media sosial, internet, termasuk pencarian yang didorong algoritma dan iklan berbasis klik, sudah membuat perubahan langkah masyarakat beroleh informasi dan membentuk opini tentang dunia.

“Dan cara-cara yang dipraktikkan di sarana sosial mengakibatkan orang terlalu rentan pada penyebaran informasi yang tidak benar dan disinformasi,” mengetahui Bergstrom.

Sebenarnya, beragam platform layaknya Twitter, Youtube, hingga Facebook, sudah lakukan usaha untuk menyetop penyebaran informasi palsu, termasuk dengan menghapus unggahan foto dan video. Berbagai platform termasuk sudah proaktif memfilter akun dan unggahan yang mampu mengakibatkan informasi tidak benar tentang vaksin untuk virus corona.

“Mengatasi misinformasi kesehatan memerlukan pendekatan yang menyeluruh. Kami dapat tetap mengambil alih tindakan pada konten yang menyesatkan, dan menaikkan serta memperluas usaha kita untuk menaikkan informasi kesehatan yang kredibel dan andal, lebih-lebih di sedang pandemi Covid-19,” kata juru bicara Twitter didalam sebuah pernyataan.

Juru bicara Youtube, Elena Hernandez, termasuk mengatakan bahwa platform mereka sudah berupaya menghapus konten tentang Covid-19 yang tidak cocok dengan kebijakan. Kevin MccAllister, dari Facebook termasuk memperlihatkan bahwa perusahaan sudah bermitra dengan ahli pemerintah, otoritas kesehatan, dan peneliti untuk mengambil alih tindakan agresif pada informasi yang tidak benar tentang Covid-19 dan vaksin, demi merawat kesehatan masyarakat.